1. Peran vitamin C pada kulit
Vitamin C adalah nutrisi esensial yang larut air dan terdapat dalam makanan seperti buah sitrus, paprika, kiwi, beri, brokoli, kubis brussel, kentang, dan tomat. Vitamin C juga dijual sebagai suplemen oral, biasanya dalam bentuk asam askorbat atau askorbat mineral, dan banyak digunakan dalam produk perawatan kulit topikal.
Di kulit, vitamin C memiliki dua peran yang sangat penting. Pertama, vitamin ini bekerja sebagai antioksidan, artinya dapat menyumbangkan elektron untuk membantu menetralkan spesies oksigen reaktif, yaitu molekul tidak stabil yang terbentuk selama metabolisme normal dan meningkat akibat sinar UV. Kedua, vitamin ini diperlukan untuk pembentukan kolagen. Kolagen adalah protein struktural utama yang membantu kulit tetap kencang dan memperbaiki diri setelah cedera.
Pedoman gizi resmi mengakui peran vitamin C dalam pembentukan kolagen, penyembuhan luka, pertahanan antioksidan, dan regenerasi vitamin E. Regulator Eropa juga mengizinkan klaim bahwa vitamin C berkontribusi pada pembentukan kolagen normal untuk fungsi kulit yang normal. Ini adalah pernyataan tentang fisiologi normal, bukan bukti bahwa vitamin C dosis tinggi dapat mengatasi kulit terbakar matahari, keriput, pigmentasi, atau menurunkan risiko kanker kulit.
2. Bagaimana paparan UV menyebabkan kerusakan
Sinar matahari mengandung radiasi ultraviolet, terutama UVA dan UVB. UVB sangat terkait dengan kulit terbakar matahari, sedangkan UVA menembus lebih dalam dan berkontribusi pada penuaan kulit akibat matahari. Keduanya dapat meningkatkan stres oksidatif di kulit.
Stres oksidatif dapat memengaruhi lipid, protein, dan DNA. Seiring waktu, paparan UV yang berulang dikaitkan dengan pigmentasi tidak merata, tekstur kasar, garis halus, berkurangnya elastisitas, dan risiko kanker kulit yang lebih tinggi. Vitamin C relevan di sini karena dapat membantu menetralkan sebagian spesies oksigen reaktif yang dihasilkan UV, membantu mendaur ulang vitamin E yang teroksidasi, dan mendukung enzim yang menstabilkan kolagen.
Namun, ini tidak berarti mengonsumsi vitamin C sebelum terpapar matahari akan membentuk perisai pelindung. Antioksidan kulit hanyalah satu bagian dari fotoproteksi. Tempat teduh, pakaian pelindung, kacamata hitam, dan tabir surya spektrum luas tetap menjadi cara utama untuk mengurangi kerusakan akibat UV.
3. Apa kata bukti tentang vitamin C oral
Bukti untuk vitamin C oral tidak sekuat yang mungkin disiratkan oleh dasar biologisnya.
Vitamin C oral: Bila digunakan sendiri, vitamin C belum secara konsisten meningkatkan dosis UV yang dibutuhkan untuk memicu kemerahan.
Bila dikombinasikan: Vitamin C ditambah vitamin E tampak lebih menjanjikan dalam uji tantangan UV skala kecil.
Bukti topikal: Dukungan bukti lebih baik ada untuk penuaan kulit akibat matahari dan warna kulit tidak merata, terutama pada formula yang distabilkan.
Sebuah tinjauan tentang kesehatan kulit mencatat bahwa kulit normal biasanya mengandung vitamin C dalam kadar tinggi, dan bahwa penuaan serta kerusakan akibat cahaya berhubungan dengan kadar antioksidan yang lebih rendah di kulit. Ini membuat peran vitamin C masuk akal secara biologis. Namun, tinjauan yang sama juga mencatat bahwa vitamin C oral saja tidak secara signifikan meningkatkan dosis eritema minimal (minimal erythema dose), yaitu jumlah UV yang dibutuhkan untuk menyebabkan kemerahan yang terlihat, dalam dua studi pada manusia.
Sebuah studi tahun 2013 pada 33 sukarelawan menemukan bahwa 100 mg/hari vitamin C selama empat minggu meningkatkan aktivitas penangkap radikal di kulit sebesar 22 persen. Ini adalah bukti mekanistik yang berguna: vitamin C oral dapat mengubah penanda antioksidan pada kulit. Namun, studi ini tidak membuktikan lebih sedikit kulit terbakar matahari, pigmentasi yang lebih ringan, keriput yang lebih sedikit, atau risiko kanker kulit yang lebih rendah.
Uji langsung lain kurang mengesankan. Dalam studi pada manusia tentang stres oksidatif yang diinduksi UV, suplementasi vitamin C oral tidak menunjukkan bukti dapat mengurangi stres oksidatif ringan yang terlihat setelah paparan UV. Sebuah studi observasional besar pada lebih dari 4.000 perempuan Amerika usia paruh baya menemukan bahwa asupan vitamin C yang lebih tinggi dikaitkan dengan tampilan penuaan kulit yang lebih baik, bahkan setelah disesuaikan dengan paparan sinar matahari dan faktor lain. Temuan itu menarik, tetapi tidak dapat membuktikan bahwa vitamin C menyebabkan perbedaan tersebut. Orang dengan asupan vitamin C lebih tinggi juga mungkin memiliki kualitas pola makan yang lebih baik dan kebiasaan sehat lainnya.
Kesimpulan yang paling seimbang adalah ini:
- Memenuhi kebutuhan vitamin C penting untuk fungsi kulit yang normal.
- Vitamin C oral saja belum terbukti kuat sebagai suplemen fotoprotektif tunggal.
- Manfaat tambahan paling mungkin terjadi jika seseorang sejak awal memiliki asupan vitamin C yang rendah.
4. Vitamin C ditambah vitamin E: indikasinya lebih kuat untuk bentuk oral, tetapi tetap terbatas
Beberapa studi terkontrol lama dengan tantangan UV menunjukkan bahwa vitamin C oral mungkin lebih efektif bila dipadukan dengan vitamin E. Ini masuk akal secara biologis karena vitamin C dapat membantu meregenerasi vitamin E setelah vitamin E teroksidasi.
Dalam satu uji kecil, kombinasi vitamin C dan vitamin E mengurangi reaksi kulit terbakar matahari setelah delapan hari. Studi acak lain menemukan bahwa 3 g/hari vitamin C saja tidak secara signifikan mengubah kemerahan akibat UV, vitamin E saja juga tidak, tetapi kombinasi keduanya mengubahnya. Uji ketiga menemukan sedikit perubahan dengan vitamin C saja, efek sedang dengan vitamin E saja, dan peningkatan dosis eritema minimal yang lebih besar dengan kombinasi keduanya.
Salah satu studi kombinasi yang lebih meyakinkan melihat lebih dari sekadar kemerahan. Studi itu menemukan bahwa setelah tiga bulan, penggunaan jangka panjang vitamin C ditambah vitamin E mengurangi dimer timin (thymine dimers), penanda kerusakan DNA yang diinduksi UVB.
Temuan-temuan ini menjanjikan, tetapi ada catatan penting. Studinya kecil, sering kali singkat, dan menggunakan dosis tinggi seperti 2 hingga 3 g/hari vitamin C serta vitamin E dosis tinggi. Ini adalah dosis yang digunakan dalam penelitian, bukan rekomendasi rutin untuk perlindungan dari matahari. Tinjauan sistematis terbaru tentang fotoproteksi oral menemukan bukti yang lebih kuat untuk polifenol, produk berbasis karotenoid, dan Polypodium leucotomos daripada untuk vitamin tunggal.
5. Vitamin C topikal memiliki bukti yang paling jelas khusus untuk kulit
Vitamin C topikal berbeda dari vitamin C oral karena dioleskan langsung ke kulit. Secara teori, ini dapat membantu menghantarkan vitamin C ke jaringan tempat stres oksidatif terkait UV terjadi. Namun, formulasi penting karena asam L-askorbat bisa tidak stabil.
Sebuah tinjauan sistematis tentang vitamin C topikal pada melasma dan penuaan kulit akibat matahari menyimpulkan bahwa vitamin C dapat memperbaiki warna kulit yang tidak merata dan kerutan, serta memiliki efek depigmentasi, meskipun perubahan yang terlihat mungkin memerlukan penggunaan jangka lebih panjang. Studi terkontrol yang lebih lama juga menemukan perbaikan pada tekstur kulit yang rusak akibat sinar matahari, topografi permukaan, dan penampilan klinis setelah penggunaan vitamin C topikal.
Bukti terkuat untuk perlindungan UV biasanya bukan pada vitamin C saja, melainkan pada kombinasi yang distabilkan. Sebuah studi in vivo pada manusia yang menggunakan 15 persen asam L-askorbat, 1 persen alfa-tokoferol, dan 0,5 persen asam ferulat menemukan perlindungan terhadap cedera UV yang disimulasikan menyerupai sinar matahari. Ini tidak membuktikan bahwa vitamin C saja memberi seluruh efek, tetapi membantu menjelaskan mengapa dokter kulit sering lebih memilih kombinasi antioksidan topikal daripada vitamin C oral saja untuk masalah kulit akibat matahari yang terlihat.
Vitamin C topikal paling tepat dilihat sebagai pelengkap tabir surya, bukan penggantinya. Banyak orang menggunakannya pada pagi hari sebelum tabir surya, tetapi kulit sensitif mungkin perlu memulainya lebih perlahan.
6. Pertimbangan praktis dan keamanan
Bagi kebanyakan orang dewasa, dasar paling aman adalah mengutamakan asupan dari makanan. Angka kecukupan yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 90 mg/hari untuk pria dan 75 mg/hari untuk wanita. Perokok memerlukan tambahan 35 mg/hari karena merokok meningkatkan stres oksidatif dan perputaran vitamin C.
Jika Anda menggunakan suplemen oral, tidak ada bukti resmi yang jelas bahwa salah satu bentuk oral umum lebih unggul. Lebih banyak tidak otomatis lebih baik. Vitamin C diatur ketat oleh tubuh, jadi setelah asupannya memadai, tambahan vitamin C oral mungkin tidak membuat kadar vitamin C di kulit jauh lebih tinggi.
Batas atas asupan untuk orang dewasa adalah 2.000 mg/hari. Dosis tinggi dapat menyebabkan diare, mual, dan kram perut. Kehati-hatian ekstra diperlukan pada orang dengan riwayat batu ginjal, hiperoksaluria, penyakit ginjal, atau hemokromatosis herediter, karena vitamin C dapat memengaruhi cara tubuh menangani oksalat dan zat besi. Orang yang sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi tidak boleh mengonsumsi suplemen antioksidan dosis tinggi kecuali disetujui oleh tim onkologi mereka.
Pada produk topikal, iritasi, rasa menyengat, kulit kering, atau jerawat dapat terjadi, terutama pada formula asam L-askorbat yang bersifat asam. Uji tempel dan penggunaan bertahap dapat membantu. Hentikan jika produk menyebabkan rasa terbakar yang menetap atau ruam.